"aku hanya sebuah Port yang tak tau protokolnya, lantas,
berharap sebuah service mampu memfungsikannya,
dan aku harap, service itu adalah,...
Kamu..."
24 September 2013 @ my Lovely room
Dear Senja,
Gue gak tau harus memulai kata seperti apa untuk menyulamnya menjadi bahasa, seperti halnya gue gak ngerti Command Line di Linux saat pertama kali gue bergelut dengan dunia IT. Juga hal-hal lainnya yang beberapa bulan ini gue anggap aneh terjadi dalam hidup gue. Dari mulai sakit yang gak sembuh-sembuh 2 bulan ini, banyaknya request projek dari beberapa orang secara dadakan, juga masalah Cinta.
Shitt, bingung juga gue, kenapa Cinta bisa ngefek dalam perhelatan hidup gue. Padahal, gue gak pernah sms-an sama cewek, gak pernah intens ngedeketin cewek (biasanya gue yg diintensin sama cewek ^-^), sehari-hari cuma Laptop dan Bahasa Pemrograman Komputer yang nemenin, tapi si Cinta, itu cukup bisa ngobrak-ngabrik mood dan hati gue seketika, ya kayak sekarang ini nih.
Duuuuh senja, gimana dooong? Tiap kali lu dateng menjelang malam, hati gue tuh dag-dig-dug duarrr gituh deh, seolah ada segamit pasir yang nyempil di hati, atau butiran debu yang nyelip di mata, bikin hati tuh serr-serr-an and mata pengen basah, lu ngerti gak?
Gue pandangin pemandangan sekitar saat lu dateng, sambil gue resapi gradasi warna yang terjadi, ahh shitt, bikin imaji gue melayang-layang menembus ruang. Bukan dipinggir ruangan kantor tempat gue bekerja, tapi terbang bebas melampaui batas. Disana ada kisah tentang Mimpi yang gue tanam, ada pahit yang pernah digamit, ada sedih berbalut kasih, tawa canda bersama sanak keluarga, juga kehangatan atas nama persahabatan. Aduuhh, gue inget, disana juga ada momen-momen indah tentang Cinta.
Dear Senja,
Gue pengen suatu hari nanti, saat lu datang sapa gue, dikala malam hendak memberi salam, ada seseorang disamping gue yang duduk merebahkan kepala, di atas pundak gue, menggenggam tangan gue, sambil bertegur sapa bersama lu dan gue. Dia yang menCintai gue dan gue menCintai dia. Lu setuju kan Senja?
So Senja, gue yakin dia akan melihat lu dimana pun dia berada, menatap senja yang sama dengan yang gue lihat, merasakan hati berbisik seperti bisikan yang gue rasakan, juga menginsafi hadirnya tunas rindu membakar suluh jiwa, membangkitkan nada-nada, dan darinya Simfoni ini kian Indah, untuk gue dan dirinya, yang gak pernah gue tau siapa dia, sebuah takdir yang masih rahasia, so senja, saat lu lihat dia melihat lu, gue mohooooon banget, titip setitik Cinta gue untuknya ya, dan sampaikan padanya, bahwa gue dengan segala yang ada pada diri gue tengah berlari sekuat tenaga tuk mencapai puncak bukit Cinta, agar gue bisa jemput dia di puncaknya kelak. Amin.
Love you Senja
Gue gak tau harus memulai kata seperti apa untuk menyulamnya menjadi bahasa, seperti halnya gue gak ngerti Command Line di Linux saat pertama kali gue bergelut dengan dunia IT. Juga hal-hal lainnya yang beberapa bulan ini gue anggap aneh terjadi dalam hidup gue. Dari mulai sakit yang gak sembuh-sembuh 2 bulan ini, banyaknya request projek dari beberapa orang secara dadakan, juga masalah Cinta.
Shitt, bingung juga gue, kenapa Cinta bisa ngefek dalam perhelatan hidup gue. Padahal, gue gak pernah sms-an sama cewek, gak pernah intens ngedeketin cewek (biasanya gue yg diintensin sama cewek ^-^), sehari-hari cuma Laptop dan Bahasa Pemrograman Komputer yang nemenin, tapi si Cinta, itu cukup bisa ngobrak-ngabrik mood dan hati gue seketika, ya kayak sekarang ini nih.
Duuuuh senja, gimana dooong? Tiap kali lu dateng menjelang malam, hati gue tuh dag-dig-dug duarrr gituh deh, seolah ada segamit pasir yang nyempil di hati, atau butiran debu yang nyelip di mata, bikin hati tuh serr-serr-an and mata pengen basah, lu ngerti gak?
Gue pandangin pemandangan sekitar saat lu dateng, sambil gue resapi gradasi warna yang terjadi, ahh shitt, bikin imaji gue melayang-layang menembus ruang. Bukan dipinggir ruangan kantor tempat gue bekerja, tapi terbang bebas melampaui batas. Disana ada kisah tentang Mimpi yang gue tanam, ada pahit yang pernah digamit, ada sedih berbalut kasih, tawa canda bersama sanak keluarga, juga kehangatan atas nama persahabatan. Aduuhh, gue inget, disana juga ada momen-momen indah tentang Cinta.
Dear Senja,
Gue pengen suatu hari nanti, saat lu datang sapa gue, dikala malam hendak memberi salam, ada seseorang disamping gue yang duduk merebahkan kepala, di atas pundak gue, menggenggam tangan gue, sambil bertegur sapa bersama lu dan gue. Dia yang menCintai gue dan gue menCintai dia. Lu setuju kan Senja?
So Senja, gue yakin dia akan melihat lu dimana pun dia berada, menatap senja yang sama dengan yang gue lihat, merasakan hati berbisik seperti bisikan yang gue rasakan, juga menginsafi hadirnya tunas rindu membakar suluh jiwa, membangkitkan nada-nada, dan darinya Simfoni ini kian Indah, untuk gue dan dirinya, yang gak pernah gue tau siapa dia, sebuah takdir yang masih rahasia, so senja, saat lu lihat dia melihat lu, gue mohooooon banget, titip setitik Cinta gue untuknya ya, dan sampaikan padanya, bahwa gue dengan segala yang ada pada diri gue tengah berlari sekuat tenaga tuk mencapai puncak bukit Cinta, agar gue bisa jemput dia di puncaknya kelak. Amin.
Love you Senja






