Terdengar celoteh ilalang berdebat hebat..
Di saat mentari menerkam angkasa..
Di saat insan terlelap dalam euforia individualisme,
merayap memenuhi tiap lenggok sempit,
Dan membuyarkan gelap di pelupuk mata yang sayu menatap langit..
Tentang "Keadilan" di negeri ini..
Yang membahana dalam kancah perebutan tahta..
Manis di muka, temaram di akhir..
Dan ini nyata, tangisan pilu tiap jiwa,
yang mengharap cerah membebaskan kelabu dunia,
yang merindukan sabana di tengah dahaga asa,
yang mengais-ngais balasan Cinta Illahi,
tentang "Keadilan" dari sisiNya.
Menunggu di pinggiran peradaban,
Menua dan lapuk termakan zaman..
Lantas "Menggaduh"-lah mereka,
Para dalang dalam drama konspirasi..
Itulah Thagut berwujud "Penguasa",
yang lantang menuntut sesuap nasi,
Bagi diri sendiri.
Tak peduli hamba merintih akan perih,
Asalkan tujuan tergenapi, segala cara dilakoni..
Semakin hangat celoteh ilalang..
Menyikapi rerimbunan kata "Makmur", bertopeng "Penindasan"
Wajah baru estrimisme, yang berselimut di balik istana "Ketamakan"...
Meruntuhkan keimanan para pengelana juang,
Mengubur bara semangat perubahan,
Di syahdunya malam bertabur bintang,
dan purnama yang membadarinya...
Inilah wajah muram bumi pertiwi..
Limbung dipenuhi parasit Intelektualis,
yang apatis ketika Tuhan menghendaki kontemplasi,
Karena suluhnya tlah padam,
tertangkup dalam benteng dunia Merdeka,
Pandangannya tlah membuta,
terselubung dalam kabut,
kabut Hitam penggugah perang..
Duhai pewaris perjuangan Al Musthafa,
Bangkit dan bergeraklah,
Tutup sudah pembukuan kerdil abad ini,
Cerahkan zaman dengan cahaya Cinta,
cinta yang bermuara dari Mata Air Cinta,
yang saling mengasihi,
saling memakmurkan,
saling mensejahterakan,
Dan, tampilkanlah abad Harapan..
Itulah puncak kerinduan tiap Insan
Senandung hidup para Muslim,
Ketika jiwa hidup menghamba dalam tatanan hidupNya..
Pariwara "Keadilan"
Posted by Bani Sabili Zulkarnain
-
-





