Sendu di Akhir Waktu
Posted by Bani Sabili Zulkarnain
-
-
Hari masih sendu, saat aku meringkas nafas di bawah gemerlap bintang kemintang.
Garisan cahaya melintang di atas langitku,
Menghujani gelap dengan sibakkan pelita.
Memetakan langkahku yang mulai kaku termakan dinginnya malam.
Hanya dapat mendekap raga bersama biluran air mata.
Melintas menuju surau tuk bermunajat dihadapanNya. Ku telungkupkan wajah dari pandangan mata yang menatapku resah.
Sembunyikan berjuta kekecewaan yang meledakkan arus tenangku.
Menyandera hari dibawah kilatan purnama kemarau hati.
Memaksaku memainkan drama dua sisi.
Tegar dihadapan manusia,
Namun yang sesungguhnya,
hampir mati ditelan rasa. Sesampainya disana, duduk termenung menengadah mimbar.
Membayangkan jasadku terkapar disebelahnya,
Seraya Imam berorasi menyampaikan hak-ku kelak di alam sana,
Hanya selarik kafan menyelubungi diri.
Dan aku hanya terdiam, mungkin sudah dekat saatnya.
Bersapa bersama maut. Aku menahan hentakan jiwa yang membendung di pelupuk mata.
Memejam dan hanya menghela nafas dalam-dalam.
Kematian yang indah, maka datanglah.
Aku sudah sangat siap.
Daripada hidup dengan beribu penyesalan.
Karena tak ada lagi alasan yang indah untuk ku kejar.
Selain maut menghampiriku dengan Indah. Hari masih sendu tuk menatapku bersimpuh dengan tangis.
Masih termangu dalam nyenyaknya mimpi semalam tadi.
Selaksa terhenyak dengan gaunganku.
Disaat yang lain masih terdiam dalam lelap, aku sudah berhambur bersama haru.
Mungkin langit mempertanyakan.
Mimpi apa aku semalam, hingga sendu mewarnai waktu.
Di penghujung malam membelenggu daratan.





